Ulang Tahun Pernikahan
Catatan saja 4 Komentar »Menikah dengannya, adalah sebuah anugerah
Merasa terpilih karena mendampingi seseorang yang begitu istimewa ![]()
(heii.. setiap orang memang istimewa kan?)

Ya ya, tapi dia berbeda di mata saya
boleh kan?
Mengapa saya memilih dia?
Banyak yang terkejut dengan keputusan saya menikah di usia muda.
Dengan si dia pula, orang yang tak pernah disangka oleh siapapun
Kalau semua oran tidak menyangka
saya katakan, sama. Saya juga tidak menyangka
Kedekatan saya dengan dia justru terjadi saat dia di Austria, bukan saat kami berada di kampus yang sama
Saat saya lulus, dia melamar saya. Dan tahu jawaban saya?
“Tidak Mau”
Kenyataannya, satu bulan kemudian dia di ujung telepon, mengajukan lamaran pada papa. Lalu membicarakan waktu pernikahan.
Ya, tapi mengapa dia?
Tidak tahu. Saya hanya mengikuti apa kata hati saat itu. Apa yang saya istikharahkan.
Dia datang, dengan pemahaman agama yang cukup baik di mata saya. Dan saya merasakan ada chemistry di dalam hati. Saya yakin jika bersama dia, saya bisa mempercayai dia untuk menjadi teman hidup saya selamanya.
Kenapa harus dipersulit?
“Usianya 11 tahun lebih tua, tidak takut dengan perbedaan itu?”
Kenyataannya memang ada banyak perbedaan. Selera, target, gaya bicara, cara mengungkapkan kemarahan, kesedihan, bahagia, Dan yang paling sulit untuk saya mulai, pergaulan. Teman-teman saya tetap rikuh dengan status beliau sebagai dosen, sedang saya tak jauh beda. Saya sedikit kikuk untuk masuk ke komunitasnya, teman-temannya , yang dulu adalah dosen saya. Hahaha.
Mengenai target dan karir? Alhamdulillah. Soal yang satu ini si dia jauh lebih baik dari saya. Saya yang kadang kelewat santai di”mandori” oleh beliau agar lebih berani mengejar mimpi. Hehehe.
Ekspresi?
Nah ini dia yang masih suka bikin ribut sampe sekarang.
Saya yang suka bawel soal penampilan, dia yang lebih perduli soal fungsionalitas daripada yang sekadar tampak
Saya yang banyak keinginan (ngelesnya sih, inovasi renovasi tiada henti), dia yang sangat apa adanya (tapi setia memenuhi keinginan saya, dengan memberi tantangan2 tertentu. hadooh,…. dosen banget sih!)
Bahasa cinta bagi saya adalah sentuhan, pelukan, kejutan, hadiah
Bahasa cinta baginya mendengar dan melihat saya menjaga orang-orang yang dia cIntai dan menjaga amanahnya
Saya butuh ekspresi
Dia tidak bisa ekspresif
Dia sistematis dalam pekerjaan, tahu mana prioritas
Saya kacaw balau dan tergantung mood, haha
Saya yang biasanya bawel, mendadak hanya bisa menangis dan diam saat ada pertengkaran
Beda dengan beliau yang malah ingin bicara saat ada selisih paham
Aduh, kalo bicara beda,bisa dicari-cari deh. Yang dicari-cari itu yang bikin konflik.
Lah, barusan sapa yang nge-list perbedaan dengan suami yaaa?? Hahaha
Tahun Pertama, si Dia Ternyata Lebih Kejam dari yang Saya Kira
Gehehe, bukaan,.. ini bukan soal KDRT.
Tahun pertama menikah, diawali dengan hidup berjauhan benua selama hampir 6 bulan.
Ah, biasa aja ya, banyak pasangan muda yang seperti itu kan?
Lalu, saat ada kesempatan untuk menyusulnya ke negeri Kangguru ( itu Australia, jreng!), eh.. Austria..
Yang saya kira saya akan dimanja
Minggu pertama di Austria, bukannya diajak jalan-jalan melihat keindahan Eropa, si dia malah nyuruh saya nyoba naik kendaraan umum ke market sendirian. Heee??
“Huu,…….. aku kan ga bisa bahasa Jerman”
“Gimana kalo bulenya cuma mau pake bahasa Inggris?”
“Gimana kalo ada yang aku mau tanyain, aku ga tau bahasa inggrisnya?”
“Aku buta baca peta..”
“Aku ga berani naik U-bahn, aku ga tahu gimana cara buka pintunya” ![]()
dan sejuta alasan.

Bulan madu?
Nanti dulu, di Mas sedang di tahun terakhir masa kuliahnya. Disertasinya dah di masa kritis.
Jadilah saya harus cemburu buta dengan laptopnya. Oh, merana…
Tapi memang begitulah si dia, pendidik sejati
bahkan istrinya pun dididik ![]()
Salah naik trem, salah naik bus , untung belum pernah salah naik U-bahn. Te








